Friday, 18 August 2017 | 12:34 AM

Artikel Pendidikan

Ujian Nasional Perbaikan: Pendaftaran Daring Hingga 23 Oktober 2015

Ujian Nasional Perbaikan: Pendaftaran Daring Hingga 23 Oktober 2015

Ujian Nasional Perbaikan: Pendaftaran Daring Hingga 23 Oktober 2015

Jakarta, Kemendikbud — Pendaftaran Ujian Nasional Perbaikan (UNP) telah dibuka dari tanggal 28 September hingga 23 Oktober 2015. UNP diperuntukkan bagi siswa SMA/MA/SMAK/SMTK, SMK/MAK, dan Program Paket C yang nilainya kurang atau sama dengan 55 pada mata pelajaran tertentu atau belum menempuh ujian secara lengkap. UNP akan dilaksanakan dengan ujian berbasis komputer atau computer-based test (CBT). Calon peserta UNP dapat mendaftarkan diri secara daring (online) di laman http://unp.kemdikbud.go.id .

Terkait dengan tempat ujian, calon peserta dapat memilih di provinsi sekolah asal atau provinsi domisili saat ini. Jadwal pelaksanaan UNP pada tanggal 22 Februari hingga 5 Maret 2016. Hasil UNP diumumkan tanggal 19 Maret 2016. Read More »

Trik Pengisian Data PUPNS

Login Page e-PUPNS

Login Page e-PUPNS

Ketika Anda mengisi form pengisian menu-menu di ePUPNS, kadang atau bahkan ada yang sering mengalami kendala. Kendala yang umum yaitu ketika hendak menyimpan data isian terjadi Secure Connection Failed atau anda kembali ke form Login e-PUPNS serta Lamanya loading saat anda ingin memilih tempat lahir, instansi dan lain sebagainya.

Berikut ini sedikit solusi dalam mengatasi permasalahan yang sering sekali terjadi saat Pengisian e-PUPNS untuk mengurangi terlalu banyak permasalahan e-PUPNS.

SYARAT UTAMA

  1. Mulailah pengisian e-PUPNS bukan pada waktu sibuk, sebab biasanya banyak yang mengisi e-PUPNS pada jam kerja namun tidak menutup kemungkinan banyak pula yang mengisi pada waktu malam hingga menjelang Subuh;
  2. Gunakan koneksi Internet yang sudah 3G atau lebih, karena jika koneksi Internet anda masih GPRS akan terlalu lama koneksi anda me-Load halaman e-PUPNS;
  3. Sebaiknya gunakan Komputer atau Laptop/Notebook untuk mengakses e-PUPNS, jika anda menggunakan Smartphone akan sulit menggunakan trik ini;
  4. Gunakan Komputer atau Laptop/Notebook pribadi anda, karena pada trik ini Nomor Registrasi dan Password anda akan tersimpan pada browser
  5. Direkomendasikan menggunakan Browser yang sudah Update, disini saya menggunakan Browser Mozilla Firefox

Berikut Trik yang dapat anda gunakan dalam pengisian Form e-PUPNS 2015

  1. Gunakan Fasilitas Remember Password pada Browser;
    Saat Login, setelah anda input NOMOR REGISTRASI dan Kata Kunci kemudian klik tombol LOGIN akan tampil di pojok kiri atas Remember Password. Klik Remember Password maka NOMOR REGISTRASI dan Kata Kunci anda akan tersimpan pada Browser.
    Tujuannya :
    Memudahkan anda saat Aplikasi e-PUPNS error dan anda kembali ke halaman Login. Maka anda tidak perlu memasukkan NOMOR REGISTRASI dan Kata Kunci berulang-ulang.
  2. Gunakan Bookmark (CTRL + D) halaman Login e-PUPNS pada browser;
    Tujuannya :
    Memudahkan anda saat kembali membuka halaman e-PUPNS, anda tidak perlu lagi menuliskan alamat website e-PUPNS, cukup klik Logo PUPNS yang ada pada Bookmark di browser.
  3. Gunakan 2 (Dua) TAB untuk Login dengan NOMOR REGISTRASI dan Kata Kunci yang sama;
    Tujuannya :
    Meminimalisir terjadinya error dan pengisian kembali data yang sama karena terjadi permasalahan / error pada e-PUPNS dengan memanfaatkan TAB yang ke 2.
    Caranya :

    1. Ketika anda ingin save data yang sudah anda isi, buka TAB yang ke 2 untuk mencoba apakah error atau tidak, dengan cara anda klik salah satu menu (Data Utama/Data Posisi/Data Riwayat/Data Guru/Data Dokter/Stakeholder) pada aplikasi e-PUPNS.
    2. Jika terjadi error Secure Connection Failed pada TAB 2, anda bisa reload (F5) atau kembali ke menu Login e-PUPNS dengan klik logo e-PUPNS pada Bookmark.
    3. Pada Login Page e-PUPNS anda klik tombol LOGIN karena NOMOR REGISTRASI dan Kata Kunci sudah tersimpan
    4. Klik kembali salah satu menu pada e-PUPNS, jika masih terjadi error ulangi langkah 2;
    5. Jika tidak terjadi error saat anda pilih menu pada e-PUPNS di TAB 2, maka klik tombol SAVE pada TAB 1 yang anda gunakan untuk pengisian data.
  4. Gunakan cara yang sama ketika anda ingin memilih Unit Organisasi, Nama Sekolah, Instansi Diklat, Tempat Lahir dan sebagainya;
    Caranya :

    1. Sebelum anda memulai memilih pilihan Unit Organisasi, Nama Sekolah, Instansi Diklat, Tempat Lahir dan sebagainya, buka TAB yang ke 2 untuk mencoba apakah error atau tidak, dengan cara anda klik salah satu menu (Data Utama/Data Posisi/Data Riwayat/Data Guru/Data Dokter/Stakeholder) pada aplikasi e-PUPNS.
    2. Jika terjadi error Secure Connection Failed pada TAB 2, anda bisa reload (F5) atau kembali ke menu Login e-PUPNS dengan klik logo e-PUPNS pada Bookmark.
    3. Pada Login Page e-PUPNS anda klik tombol LOGIN karena NOMOR REGISTRASI dan Kata Kunci sudah tersimpan
    4. Klik kembali salah satu menu pada e-PUPNS, jika masih terjadi error ulangi langkah 2;
    5. Jika tidak terjadi error saat anda pilih menu pada e-PUPNS di TAB 2, maka klik tombol SAVE pada TAB 1 yang anda gunakan untuk pengisian data.

Ini merupakan hasil uji coba saat mengisi form data e-PUPNS untuk mengatasi pengisian ulang data yang sudah di inputkan karena terjadi error atau halaman kembali ke menu Login.

Memang sedikit repot dengan bolak-balik TAB 1 dan TAB 2, namun lebih repot lagi jika data yang sudah kita inputkan harus di inputkan kembali karena saat proses SAVE terjadi Error.

Cara ini sudah saya gunakan dan pengisian tidak lagi membutuhkan waktu yang lama karena berurusan dengan error pada Aplikasi e-PUPNS.

Demikian sedikit Trik yang dapat anda gunakan untuk pengisian e-PUPNS, semoga trik ini dapat memudahkan Bapak/Ibu dalam pengisian Aplikasi e-PUPNS. Terimakasih

Pelajar SMA mulai puber dan rawan seks bebas

 

Pelajar SMA mulai puber dan rawan seks bebas

Ilustrasi seks bebas. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Filipe Frazao

Merdeka.com – Komisi Penanggulangan AIDS Kota Sukabumi, Jawa Barat, melibatkan pelajar khususnya tingkat sekolah menengah atas sederajat sebagai salah satu antisipasi penyebaran HIV dan AIDS di kalangan remaja. Hal itu karena para pelajar harus mengetahui bahaya AIDS sejak dini.

“Kami sengaja melibatkan pelajar dalam melakukan antisipasi ini, karena sejak dini mereka harus tahu bagaimana penyebaran dan pencegahan penyakit yang hingga kini belum ada obatnya itu,” kata Ketua KPA Kota Sukabumi Achmad Fahmi di Sukabumi, seperti dilansir Antara, Senin (3/8).

Menurutnya, pelajar tingkat SMA sederajat ini sudah mulai puber dan rawan melakukan seks bebas sehingga perlu perhatian khusus dan dilibatkan dalam berbagai hal yang positif salah satunya mengkampanye gerakan antisipasi penyebaran HIV/AIDS di Kota Sukabumi. Kegiatan tersebut sudah mulai dilakukan salah satunya melalui masa orientasi siswa atau MOS.

Diharapkan dengan semakin pedulinya pelajar terhadap penyebaran penyakit ini jumlah warga yang tertular HIV bisa ditekan. Selain itu, harus diakui penyebaran HIV di kota mochi ini cukup tinggi bahkan dari data KPA Kota Sukabumi sejak 2000 lalu hingga kini mencapai 827 orang dan untuk 2015 sampai Juli ditemukan 68 kasus baru.

“Sudah beberapa tahun terakhir penyebaran HIV melalui hubungan seksual dan mayoritas penderitanya adalah kaum hawa. Sehingga perlu perhatian khusus dari berbagai pihak dengan penyebaran penyakit ini,” tambahnya.

Di sisi lain, kampanye antisipasi penyebaran HIV/AIDS, kata Fahmi juga menggalang aktivis peduli HIV di kalangan usia 15-19 tahun, di mana anggotanya akan dijadikan relawan yang tugasnya melakukan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan mulai kepada rekannya, lingkungan warga dan di sekolah.

Bahkan riset kesehatan dasar (Riskesda) kepada warga khususnya pelajar pengetahuan terhadap HIV/AIDS masih sangat rendah. Riset ini menjaring remaja berusia 15-24 tahun dengan memberikan pertanyaan perihal HIV/AIDS yang ternyata hasilnya pengetahuan benar dan komprehensif tentang HIV/AIDS hanya sekitar 11,4 persen.

[eko / merdeka.com]

Mulai Semester Genap, Kurikulum 2013 Dihentikan

TRIBUN NEWS / DANY PERMANA Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). TRIBUN NEWS / DANY PERMANA

TRIBUN NEWS / DANY PERMANA Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). TRIBUN NEWS / DANY PERMANA

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menginstruksikan sekolah yang belum menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester untuk kembali ke Kurikulum 2006. Sementara itu, sekolah yang telah menjalankan selama tiga semester diminta tetap menggunakan kurikulum tersebut sembari menunggu evaluasi dari pihak berwenang.

“Dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, maka Kurikulum 2013 dihentikan,” kata Anies kepada pewarta, Jumat (5/12/2014).

Anies mengatakan, saat ini ada 6.221 sekolah yang sudah pakai Kurikulum 2013 selama tiga semester lebih.

“Mereka akan jadi contoh bagi sekolah yang belum siap,” tambah Anies.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini kembali menyinggung soal pelaksanaan Kurikulum 2013 yang dinilai terlalu cepat. Anies pun berharap agar pelaksanaannya yang sudah dievaluasi kali ini bisa berjalan setahap demi setahap. Sekolah yang dijadikan contoh pun nantinya akan jadi model dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 yang ideal bagi sekolah-sekolah lain.

Kurikulum 2013 telah diterapkan di 6.221 sekolah sejak Tahun Pelajaran 2013/2014 dan di semua sekolah di seluruh tanah air pada Tahun Pelajaran 2014/2015. Sedangkan, Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yakni tiga bulan setelah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Mendikbud Hentikan Kurikulum 2013, Kembali ke Kurikulum 2006

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan melakukan sidak di SD Negeri Sukmajaya. Jumat (14/11/2014).

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan melakukan sidak di SD Negeri Sukmajaya. Jumat (14/11/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Rasyid Baswedan akhirnya memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia. Kurikulum 2013 selanjutnya diperbaiki dan dikembangkan melalui sekolah-sekolah yang sejak Juli 2013 telah menerapkannya.

“Proses penyempurnaan Kurikulum 2013 tidak berhenti, akan diperbaiki dan dikembangkan, serta dilaksanakan di sekolah-sekolah percontohan yang selama ini telah menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir,” kata Mendikbud Anies Baswedan di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Jumat (5/12/2014) lalu.

Implementasi Kurikulum 2013 secara bertahap dan terbatas telah dilakukan pada Tahun Pelajaran 2013/2014 di 6.221 sekolah di 295 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Hanya sekolah- sekolah inilah yang diwajibkan menjalankan kurikulum tersebut sebagai tempat untuk memperbaiki dan mengembangkan Kurikulum 2013 ini. Read More »

Dianggap menyulitkan, sistem progress report akan diubah Dikti

Ilustrasi anak kuliah. ©Shutterstock/l i g h t p o e t

Ilustrasi anak kuliah. ©Shutterstock/l i g h t p o e t

Merdeka.com – Pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) mengaku akan mengubah sistem progress report bagi para penerima beasiswa. Sebab, sistem ini dinilai mempersulit proses pencairan dana peserta beasiswa yakni harus ada tanda tangan dari dosen maupun profesor di tempat studinya.

Pernyataan ini muncul, lantaran laporan dana peserta beasiswa Dikti yang tertahan tak kunjung diberikan sedang menuai berbagai polemik.

“Ini sistem (progress report) kan baru berjalan dari Januari, progress report harus bertanda tangan profesor di sana,” kata Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemendikbud Supriadi Rustad saat ditemui di kantornya, di Jakarta, Selasa (9/9). Read More »

Baru 20 persen penduduk kuliah, Indonesia sulit jadi negara maju

Selebrasi Kelulusan Kuliah

Selebrasi Kelulusan Kuliah

Merdeka.com – Indonesia akan kesulitan naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) dalam beberapa tahun mendatang. Itu karena jumlah sarjana di Tanah Air masih kecil dibandingkan jumlah populasi.

Itupun masih diperparah kualitas lulusan pendidikan tinggi yang tidak siap bersaing di pasar kerja.

Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie mengungkapkan, fenomena menyedihkan itu harus ditanggulangi pemerintah. Pendidikan sukses bukan diukur semata dari jumlah lulusan, tapi kesesuaian (missmatch) dengan pasar tenaga kerja.

“Keunggulan terjadi bukan hanya dari proses pendidikan dan pembudayaan, tapi harus lewat proses lapangan kerja. Jadi tidak bisa belajar hanya dari buku, harus dilalui,” ujarnya dalam seminar “Refleksi Tiga Tahun MP3EI” di Jakarta, Kamis (4/9).

Menurut Habibie, sudah terlalu banyak sumber daya manusia di Indonesia tersia-siakan. Seringkali mereka menganggur karena tidak tersedia pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang studi.

“Bahkan sarjana bisa cari pekerjaan lain. Kalau perlu menjadi sopir bus atau taksi,” cetusnya.

Dalam forum yang sama, Rektor Institut Teknologi Surabaya Triyogi Yuwono menyatakan jumlah partisipasi kasar penduduk yang mengenyam pendidikan strata 1 baru 20 persen, alias mencakup 6 juta orang.

Jumlah itu masih belum memadai buat menggenjot perkembangan IPTEK, sebagai motor perekonomian. “Sulit jika kita ingin menjadi negara maju kalau kondisi teknologi masih seperti ini,” ujarnya.

Padahal, populasi penduduk produktif di negara maju yang sekolah hingga sarjana amat tinggi. Sebagai perbandingan, di Korea Selatan, penduduk berusia 18-24 tahun yang menempuh studi sarjana mencapai 90 persen.

“Kita sangat jauh tertinggal,” kata Triyogi.

Kalaupun mau mengejar standar kuantitas sarjana negara maju, Indonesia harus menempuh rute yang berbeda.

Dengan penduduk mencapai 240 juta jiwa dan terus bertambah, lebih baik pemerintah memperbanyak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun Community College. Cara itu lebih mudah untuk memperbanyak paling tidak angkatan kerja berkualifikasi diploma.

Seiring dengan itu, partisipasi di perguruan tinggi diharapkan bisa mencapai 40 persen pada 2020.

“Sering kita dengar Indonesia sekarang mendapat bonus demografi. Tapi itu kalau kita berhasil mendidik, kalau tidak maka menjadi bencana demografi,” urai Triyono.

Untuk diketahui, Lembaga Studi McKinsey menyatakan Indonesia berpeluang naik kelas menjadi kekuatan ekonomi ketujuh dunia. Itu bisa dicapai pada 2030, asal ada peningkatan konsumsi dari kelas menengah yang populasinya berpotensi melampaui 100 juta jiwa.

Unik, perpustakaan ini tidak menyediakan buku sama sekali

Perpustakaan Universitas Politeknik Florida. ©2014 TheVerge.com

Perpustakaan Universitas Politeknik Florida. ©2014 TheVerge.com

Merdeka.com – Jika masuk ke dalam sebuah perpustakaan, hal yang pertama kali kita temukan pastinya adalah tumpukan atau deretan buku-buku. Tetapi, hal tersebut tidak akan bisa ditemukan di perpustakaan Universitas Politeknik Florida. Bagaimana bisa?

Perkembangan teknologi sudah memodernisasi beragam sektor pendidikan, termasuk kawasan perpustakaan sekolah. Berbekal dana hingga USD 60 juta atau sekitar Rp 700 miliar, universitas tersebut membangun sebuah perpustakaan berbasis buku elektronik seluas 1000 meter persegi lebih.

Menariknya, ruangan-ruangan yang terdapat di perpustakaan tersebut hanya dipenuhi oleh ruang baca, meja, dan beberapa komputer dekstop siap dipakai. Ya, perpustakaan tersebut hanya menyediakan buku digital atau e-book saja. Tetapi jangan salah, jumlah e-book koleksinya mencapai 135.000 judul, The Guardian (29/08).

Bahkan, universitas tersebut juga menyediakan dana tambahan sekitar Rp 700 juta untuk membeli e-book baru yang belum dimiliki oleh perpustakaan tersebut. Menariknya, mahasiswa dan dosen lah yang memutuskan pembelian e-book baru yang akan dibeli dengan uang tadi, mereka cukup mengusulkan pemakaian buku tersebut untuk kuliah.

Karena universitas tersebut berbasis pada mata kuliah teknik, koleksi buku yang tersedia hampir semuanya tentang sains, teknologi, teknik, dan matematika. Hanya tersedia sedikit buku tentang sastra dan cabang ilmu pengetahuan sosial. Bagi yang tidak memiliki perangkat, perpustakaan tersebut menyediakan laptop dan tablet yang dapat dipinjam.

Namun, rekor dari perpustakaan elektronik ‘murni’ tersebut mungkin akan segera terlepas. Mengingat perpustakaan Universitas Politeknik Florida telah menjalin kerjasama dengan universitas lain dan mendapatkan sekitar 7000 buku, walaupun mereka belum menggunakannya sama sekali.

Dahlan berambisi ubah buku pelajaran jadi tablet

Anak-anak menggunakan tablet. © Telegraph.co.uk

Anak-anak menggunakan tablet. © Telegraph.co.uk

Merdeka.com – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana mengubah pola pendidikan masyarakat khususnya bagi pelajar. Melalui perusahaan penerbitan dan percetakan milik negara PT Balai Pustaka, Dahlan ingin menggenjot penggunaan buku elektronik atau e-book.

Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengatakan pengembangan buku elektronik ini bakal dimuat terlebih dahulu di 1.000 gadget dengan model mirip tablet.

“Jadi nanti anak-anak mulai SD hingga SMP tidak perlu membawa buku berat-berat lagi, cukup bawa tablet. Jadi isi tablet semuanya buku pelajaran, tidak ada yang lain,” ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/8).

Dalam pengembangan buku elektronik, Balai Pustaka nantinya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah terutama untuk masalah pendanaan.

“Cari budget yang relatif terjangkau terutama Pemda tempat masing-masing, modelnya seperti iPad tapi tidak perlu internet. Isinya hanya buku-buku pelajaran saja,” jelas dia.

Menurut Dahlan, rencana ini akan lebih dulu menyasar daerah di kepulauan. “Kepulauan Riau karena kepulauan kan ingin cepat maju, modernisasi alatnya, kembangkan secara khusus,” ungkapnya.

Peduli pendidikan, Google buat ‘ruang kelas’ di dunia maya

Ilustrasi anak dan laptop. ©shutterstock.com/Vasiliy Koval

Ilustrasi anak dan laptop. ©shutterstock.com/Vasiliy Koval

Merdeka.com – Google sebelumnya diklaim telah menguasai pasar gadget sekolah-sekolah Amerika lewat laptop Chromebook. Kini, Google berniat melangkah lebih jauh dengan mengenalkan Google Classroom. Apa itu?

Google Classroom merupakan sebuah aplikasi lintas platform (PC dan mobile) yang memungkinkan seorang guru dan siswa membuat kelas di dunia maya. Lebih jauh, seorang guru bisa mendistribusikan tugas, mengumpulkan, dan menilai tugas-tugas tersebut via Google Classroom, Engadget (12/08). Aplikasi ini memiliki tampilan yang rapih dan terorganisir serta membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih cepat dan murah.

Uniknya, guru pun bisa membuat sebuah diskusi kelas lewat Google Classroom. Bahkan, siswa bisa mengomentari dan memberikan saran untuk tugas teman ‘sekelas’ mereka yang lain. Tak pelak, Google Classroom bisa membuat siswa tidak perlu menghabiskan kertas dan peralatan tulis lain. Bukan tidak mungkin bila di masa depan Google Classroom bisa mengantikan kelas-kelas di sekolah seutuhnya.

Pembuatan Google Classroom sendiri tak lepas dari keinginan Google untuk membuat laptop Chromebook semakin diterima oleh masyarakat dunia, khususnya dunia pendidikan internasional.

Setelah diperkenalkan pada bulan Mei lalu, tak kurang dari 100.000 guru dari 45 negara di dunia ikut andil dalam menilai aplikasi baru Google, Google Classroom. Penggunaan secara internasional pun tidak memiliki banyak kendala sebab Google telah menyediakan hingga 42 bahasa di Google Classroom.

Rosemarie DeLoro, seorang guru asal New York, menyatakan selama 60 tahun dia mengajar tidak pernah sekalipun menggunakan komputer. Namun, sejak memiliki Chromebook dan Google Classroom di dalamnya, dia bisa dengan mudah memberikan ‘PR’ digital kepada murid-muridnya dan memberikan tanggapan secara langsung, kapan pun dan di manapun.

Jika berminat mencoba Google Classroom, Anda bisa mengaksesnya disini .