Monday, 20 November 2017 | 7:27 AM

Pelajar SMA mulai puber dan rawan seks bebas

 

Pelajar SMA mulai puber dan rawan seks bebas

Ilustrasi seks bebas. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Filipe Frazao

Merdeka.com – Komisi Penanggulangan AIDS Kota Sukabumi, Jawa Barat, melibatkan pelajar khususnya tingkat sekolah menengah atas sederajat sebagai salah satu antisipasi penyebaran HIV dan AIDS di kalangan remaja. Hal itu karena para pelajar harus mengetahui bahaya AIDS sejak dini.

“Kami sengaja melibatkan pelajar dalam melakukan antisipasi ini, karena sejak dini mereka harus tahu bagaimana penyebaran dan pencegahan penyakit yang hingga kini belum ada obatnya itu,” kata Ketua KPA Kota Sukabumi Achmad Fahmi di Sukabumi, seperti dilansir Antara, Senin (3/8).

Menurutnya, pelajar tingkat SMA sederajat ini sudah mulai puber dan rawan melakukan seks bebas sehingga perlu perhatian khusus dan dilibatkan dalam berbagai hal yang positif salah satunya mengkampanye gerakan antisipasi penyebaran HIV/AIDS di Kota Sukabumi. Kegiatan tersebut sudah mulai dilakukan salah satunya melalui masa orientasi siswa atau MOS.

Diharapkan dengan semakin pedulinya pelajar terhadap penyebaran penyakit ini jumlah warga yang tertular HIV bisa ditekan. Selain itu, harus diakui penyebaran HIV di kota mochi ini cukup tinggi bahkan dari data KPA Kota Sukabumi sejak 2000 lalu hingga kini mencapai 827 orang dan untuk 2015 sampai Juli ditemukan 68 kasus baru.

“Sudah beberapa tahun terakhir penyebaran HIV melalui hubungan seksual dan mayoritas penderitanya adalah kaum hawa. Sehingga perlu perhatian khusus dari berbagai pihak dengan penyebaran penyakit ini,” tambahnya.

Di sisi lain, kampanye antisipasi penyebaran HIV/AIDS, kata Fahmi juga menggalang aktivis peduli HIV di kalangan usia 15-19 tahun, di mana anggotanya akan dijadikan relawan yang tugasnya melakukan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan mulai kepada rekannya, lingkungan warga dan di sekolah.

Bahkan riset kesehatan dasar (Riskesda) kepada warga khususnya pelajar pengetahuan terhadap HIV/AIDS masih sangat rendah. Riset ini menjaring remaja berusia 15-24 tahun dengan memberikan pertanyaan perihal HIV/AIDS yang ternyata hasilnya pengetahuan benar dan komprehensif tentang HIV/AIDS hanya sekitar 11,4 persen.

[eko / merdeka.com]